Friday, February 6, 2009

PELAJARAN HIDUPKU SIANG INI

Bu Tati, begitu biasanya gue dan temen-temen kantor memanggilnya. Seorang ibu yang datang setiap menjelang siang ke kantor dengan tentengan plastik kresek di kedua tangannya. Plastik - plastik itu berisi nasi lengkap dengan sayur mayur dan lauknya yang sudah di tata di dalam stereo foam.

"Neng, Mbak, Mas, Pak, Bu pada mau beli makan siang ga? Hari ini Tati bawa......."

kalimat-kalimat senada seperti itu yang selalu meluncur dari mulut bu Tati setiap bertemu dengan gue ataupun temen kantor gue yang ditemuinya. Tiga tahun sudah gue bekerja di organisasi ini dan tiga tahun itu pula gue akrab dengan sapaan-sapaan bu Tati. Walaupun gue gak beli, dia tidak bosan untuk menyapa dan menawarkan dagangannya. Sebuah upaya yang patut diacungkan jempol bukan.

Kantor gue baru sebulan lebih pindah ke kantor yang baru di kawasan Jakarta Selatan. Dulu, di gedung yang lama, gue sangat jarang beli makan siang dari bu Tati karena pada dasarnya kurang suka dengan nasi kotak. Selain itu juga di gedung yang lama banyak sekali pilihan. Ke mana-mana deket. Sabang, Sarinah, EX, Plaza Indonesia dan lain-lain bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki. Namun sejak pindah ke gedung yang baru dimana nyari makan siang agak terbatas, terkadang sebelum jam makan siang gue pun jadi akrab dengan menu makan siang yang ditawarkan oleh Bu Tati. terkadang gado-gado, ikan tenggiri, bebek cabe ijo, ayam mentega dan lain-lain. Selain lauk-pauk juga ada sayur tentunya.

Siang ini (06/02/09), seperti biasa, Bu Tati kembali menyapa. Hm..hmm karena mau makan siang keluar dengan mbak Inda, maka siang ini gue absen dulu beli makan siang dari bu Tati. Akan tetapi Mbak Hera, temen kerja yang seruangan  dengan gue, beli makan siang dari bu Tati.

Bermula dari obrolan tentang tua dan pelupa antara mbak Hera dan bu Tati , gue pun iseng tanya sama bu Tati.

"Memangnya berapa umur bu Tati, kok bilang udah tua?"

"48, Neng"

"Wah semumuran sama mama saya dong"

"Neng udah kerja, anak Tati masih kuliah" ujar bu Tati

Gue kaget. Sungguh gak menyangka. Kuliah? Tidak terbayangkan oleh gue sebelumnya jawaban seperti itu yang keluar dari bu Tati. pertanyaan pun gue lanjutkan.

"Anaknya kuliah dimana bu?"

"Satu di Yogya, satu di Jakarta"

Gue pun makin penasaran.

"Di Yogya kuliah dimana?"

"Yang di yogya kuliah di UGM, kalo yang di Jakarta kuliah di Sahid"

"Waaah hebat bu Tati" gue dan mbak Hera spontan berseru setelah kalimat tersebut meluncur dari mulut bu Tati.

"Tapi ya Neng, kalo yang di Jakarta itu banyak makan duit. kalo yang di Yogya enggak. Di Yogya kan murah-murah. Tatinya jadi pusing. Kan cuma jualan gini aja" ujar bu Tati.

"Ya sabar Bu Tati, ntar kalo anaknya udah lulus , trus kerja kan bu Tati juga yang enak," gue spontan bicara seperti itu.

"Iya seh. Gimana kalo gak dapet kerja kantoran kayak Neng?"

"Ya makanya Bu Tati doain supaya anaknya sukses. Belom lulus, kok doanya jelek amat,"

"Ya bukannya doa, neng. Tati takut aja"

"Makanya Bu Tati berdoa supaya anaknya sukses"

"Iya Neng. Makasih banyak. Tati ke atas dulu ya,"

Begitulah akhir obrolan gue dan mbak Hera dengan Bu Tati.

Gue terharu banget denger kata-kata bu Tati. Dengan dagang nasi kotak untuk makan siang dari satu kantor ke kantor lainnya, bu Tati mampu untuk menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Begitulah mungkin orang tua ya, demi sayang dan cintanya kepada anak-anaknya yang notabene adalah anugrah sekaligus titipan dari yang maha kuasa, apapun akan dilakukan untuk anaknya. Apapun jenis pekerjaan selama itu halal, akan dilakoninya. Semua, untuk anaknya. Sebuah pengorbanan yang tidak akan pernah bisa dibalas oleh sang anak. semoga gue gak sok tau ya, secara belom ngerasain jadi orang tua. Tapi jujur dari hati yang paling dalem, gue salut dengan perjuangan bu Tati untuk anaknya.

Dan gue pun jadi inget bokap gue yang juga berwirausaha untuk menyekolahkan gue dan adek-adek gue. Walaupun dengan cara yang tidak sama dengan bu Tati. Namun intinya tetep aja berwirausaha. Hiks..hiks..Really miss you, Papa.

Buat bu Tati, semoga sukses selalu. Terima kasih untuk suatu pelajaran hidup di siang hari ini. Semoga nanti, jika gue udah punya anak, gue juga bisa menjadi wanita dan ibu yang tangguh bagi anak-anak gue.

Everything I do, I do it for you......

......

....

Jadi inget lagunya Bryan Adam he..he..

1 comment:

  1. he..he..he..
    sebenarnya pendidikan itu bisa murah kalau memang pemerintah niat emang mau melakukannya, kalau kalau dunia pendidikan bukan pabrik, cuma jualan ilmu dalam bentuk kata kata dan buku buku, kecuali dibidang sains dan teknologi, emang biaya besar karena peralatan praktekknya tapi kalau bukan ilmu eksakta, tidak banyak biayanya, wong semua yg ada di kepala tinggal di tuang ke buku, pemerintah cukup bayar mahal aja tuh tulisan tulisan pada orang berilmu, sayangnya pemerintah terutama oknumnya, selama ini banyak membisniskan pendidikan, mau mendirikan sekolah harus bayar sekian juta, rautsan juta, gimana sekolah swasta kagak mahal, seharus senang dong kalau ada orang mau buat lembaga pendidikan..

    dasar pejabat bajingan...

    makanya, orang orang seperti bu tati perlu di acungin jempol deh...
    banyak kok yg seperti bu tati..

    tapi yg sangat disayangkan, kadang anak nya yg tidak tahu diri, kuliah di akademi aja lagaknya seperti anak Trisakti, bukan belajar keras dan berkerja keras, malah leha leha, banyak tuh di disini, kagak enak gue nyebutin kampusnya...

    nice posting, Vid

    ReplyDelete