Tuesday, February 10, 2009

OBSESI SEORANG IBU

Hari ini (09/02/09), ketika hari sudah  menjelang sore, berceritalah dua ibu muda yang  seruangan sama gue, Mbak Hera dan Mbak Endang. Entah bagaimana mulanya mereka sampai kepada pembahasan tentang piano.

………………..

“Kemaren gue anter anak gue les piano. Gue sebel, gurunya gak sabaran banget. Trisha kan baru tiga tahun, Belum bisa baca. Mana ngerti diajarin teori, not balok gitu. Akhirnya gue ikutan ngajarin. Trisha cepet ngertinya ” ujar mbak Hera dengan muka berseri-seri.

Dia tampak senang anaknya berhasil belajar sesuatu tentang piano.

“Loe protes dong Mbak sama tempat lesnya kalo gurunya itu gak bener cara ngajarnya” ujar gue.

Akhirnya gue ikut nimbrung dengan percakapan ibu-ibu. Kalo bukan karena suami, pasti tentang anak. Kalo enggak kedua-duanya, biasanya tentang mertua he..he..Inilah kesimpulan gue bergaul dengan banyak ibu-ibu muda sejak mulai bekerja. Dan gue hanya bisa menjadi pendengar dengan sedikit komentar-komentar sotoi gue. Secara belom nikah, jadi belom ngerasain deh tuh bagaimana jatuh bangunnya sebuah pernikahan, bagaimana repotnya ngurusin anak dan suami he..he..Komentar – komentar yang gue lontarkan pun biasanya dimulai dengan ‘katanya seh’ he…he..he..Sok iyeh banget.

“Udah. Gue udah protes. Minta ganti guru yang bisa lebih sabar ngadepin anak gue” ujar Mbak Hera.

“Her, kasian anak loe umur segitu udah harus belajar kayak gitu” ujar Mbak Endang.

“Dia bisa kok, tapi memang guru yang ngajarin harus lebih sabar” ujar Mbak Hera.  

Diskusi pun berlanjut antara mbak Hera dan Mbak Endang. Masih tentang anak-anak mereka. Gue gak terlalu ngikutin karena fokus otak gue ke monitor. Entah topik apa yang dibahas setelah gue ikut nimbrung tadi. Gue kembali menyimak pembicaraan mereka ketika mbak Hera menyinggung tentang balet.

“Iya, Ndang nanti gue juga pengen masukin anak gue les balet and bla..bla…”

Mbak Hera terus berceloteh tentang keinginan dia untuk melakukan ini dan itu buat Trisha, anak semata wayangnya.

“Her, Umur segitu bagusnya lebih banyak main. Nanti umur lima tahun baru deh tuh loe bisa push dia untuk lakukan ini dan itu. Kalo umur tiga tahun masih terlalu kecil. Kasian. Baca aja belom ngerti” ujar Mbak Endang.

“Gitu ya?” tanya Mbak Hera.

“Curiga gue, yang suka piano bukan Trisha. Tapi emaknya. Ya Mbak?” tanya gue sekenanya.

“Iya. Bener ya, Her?” tanya Mbak Endang.

Mbak Hera tertawa kecil kemudian menjawab iya.

“Loe ada-ada aja Mbak. Obsesi diri loe jangan dipaksain ke anak loe. Kasian Trishanya” ujar gue.

Otak gue langsung berpikir, kok sedikit sotoi ya komentar gue. Sok tau banget seh gue hi..hi.hii

“Tapi kalo piano dia memang suka kok. Di rumah ada piano kecil gitu. Dia interested banget. Makanya gue masukin les piano” ujar Mbak Hera lagi.

Buat gue ini terdengar seperti pembelaan diri ibu-ibu terhadap apa yang mereka lakukan kepada anaknya. Hm..hmm gue pun jadi berpikir nanti klo gue punya anak begitu gak ya he..he..he..Mengkhayal oh mengkhayal. Nikah aja belom, udah mikir punya anak.

 Tapi gue memang pernah menonton TV (gue lupa di stasiun TV mana, tapi yang pasti waktu itu yg ngomong  seorang pakar tentang tumbuh kembang anak-anak) ,di salah satu tayangan program anak dimana topiknya orang tua jangan memaksakan obsesi pribadi kepada anak.

Di sinilah gue mengetahui bahwa obsesi pribadi orang tua, biasanya obsesi waktu  kecil yang enggak kesampean, tidak baik untuk dipaksakan kepada sang anak. Kasarnya, anak jangan dijadikan seperti kelinci percobaan.  Kalo kata pakar itu, cara yang lebih bagus adalah amati si anak tersebut, ke arah dan bidang apa si anak tertarik. Orang tua hanya sekedar mengarahkan saja. Tidak memaksakan kehendak, apalagi obsesi pribadi masa kecil mereka. Katanya lagi, itu tidak baik untuk tumbuh kembang si anak itu sendiri.

Hm..hm…Gue pun jadi bertanya-tanya. bener gak seh?

No comments:

Post a Comment