Saturday, February 21, 2009

MENIKAH=KOMITMEN?

Menikah, satu kata ini begitu akrab di telinga gue akhir-akhir ini. Entah itu keluarga besar gue yang cerewet nanyain mulu kapan nikah, entah itu kabar dan undangan dari temen-temen dan sahabat-sahabat gue yang menikah satu persatu, entah itu dari orang-orang sekitar gue…Get merried? Hm..hm..of course I also think about it.

 

Tapi sebelum melangkah lebih jauh, beragam cerita tentang lika-liku pernikahan tiga tahun belakangan ini juga akrab di telinga gue secara makan siang selalu dengan ibu-ibu yang umurnya 30 tahun keatas dan mereka semua sudah merasakan bagaimana naik turunnya sebuah pernikahan, bagaimana manis pahitnya sebuah perkawinan. Dan seperti biasa gue hanya menjadi pendengar setia. Gak ada ruginya juga ngedengerin, setidaknya semua cerita-cerita tersebut bisa menjadi pelajaran buat gue ke depannya dalam menapaki kehidupan he.he..he..

 

Suatu hari ketika ngobrol di sela-sela makan siang, mbak Inda dan bu Ate pernah bercerita bagaimana mereka hampir setiap hari bertengkar dengan suami mereka hanya karena masalah handuk. Setelah mandi handuk diletakkan sembarangan. Kadang di atas kasur, kadang di kursi. Padahal udah ada gantungan tempat tarok handuk. Di siang yang lain ada juga cerita tentang baju kotor yang diletakkan sembarangan padahal sudah ada tempat baju kotor. Kata ibu-ibu yang setia makan siang bersamaku ini seperti itulah gambaran umum lima tahun pertama sebuah pernikahan. Hal-hal sepele menjadi pemicu pertengkaran yang tidak berujung. Perang pendapat dan perang ego diri masing-masing menjadi bumbu pernikahan yang harus dialami hampir setiap hari. 

 

Kemarin (20/2/09), Nana, sobat gue, kirim via email sebuah artikel yang tidak ketauan siapa penulisnya. Kembali bercerita tentang lika-liku sebuah pernikahan. Lengkap dengan contoh-contoh masalah pada saat pacaran, kehidupan lima tahun pertama pernikahan, lima tahun kedua pernikahan, lima tahun ketiga pernikahan, hingga lima tahun keempat pernikahan.

 

Untuk lima tahun pertama sang penulis tersebut menggambarkan suatu permasalahan yang tidak jauh beda dengan cerita-cerita ibu kantor gue yaitu tentang penggunaan odol. Dipencet dari tengah, bukannya dari bawah. Udah gitu odolnya gak ditutup lagi.

 

Lima tahun kedua permasalahan beralih kepada urusan anak. Bagaimana visi dan misi dalam membesarkan anak, masalah pendidikannya dan lain-lain. Lima tahun ketiga mulai dengan urusan karir dan rumah tangga. Di tahun keempat urusan kembali kepada anak, tentang masa depan sang anak.

 

Menurut sang penulis yang gak ketauan ini alasan sebuah perkawinan bisa bertahan adalah KOMITMEN antara suami istri tersebut dalam menjalani bahtera kehidupan rumah tangga.

 

Entah kenapa gue tergoda untuk memforward artikel ini kepada tiga ibu-ibu di kantor yang sudah menikah tentunya. Dua balasan email pun gue dapatkan.

 

Komentar mbak Inda sangat singkat tentang artikel ini:

“haha Vid..tulisan dibawah emang punya modus samalah..namanya sama-sama manusia yang punya pikiran sendiri-sendiri..As I have told you..ya begitulah..he..he..”

 

Beda lagi dengan komentar mbak Tatak yang agak-agak serius mengomentari artikel gak ada judul ini.

………….

Bagiku Vid ya.Mantan pacarku itu justru lebih wonderful ketika sudah menjadi suami. Aku jadi tahu banyak hal positifnya yang belum ku tahu ketika pacaran. Misalnya ……………….suamiku juga mau aja masak ketika aku lagi malas. Kalau aku lagi training atau pergi berhari-hari, suamiku itu yang menunggu dan merawat anakku. Dan yang jelas, sangat menyenangkan mendapati orang yang selalu menyediakan telinga ketika kita ingin mengeluh.

…………

Bertengkar karena perbedaan pendapat pastilah ada. Tapi kupikir, kami mempertahankan perkawinan karena kami saling membutuhkan. Bukan semata-mata karena kami terpaksa mempertahankan komitmen.”

 

Jadi berdasarkan cerita diatas bisa disimpulkan bahwa ada dua alasan kenapa perkawinan bisa dipertahankan yaitu masih dihargai dan ditaatinya komitmen yang sudah dibuat. Kedua, adanya rasa saling membutuhkan antar pasangan yang membuat pasangan enggan untuk berpisah. Rasa saling membutuhkan bisa tumbuh karena adanya saling melengkapi antar pasangan dan saling menghargai antara satu dengan yang lainnya.  

 

Dan kemudian gue pun menjadi speechless ketika di email mbak Tatak nyuruh gue untuk mempraktekkan. Hm..hmm..bagaimana cara mempraktekkan untuk mempertahankan sebuah pernikahan mbak, wong menikah aja belum. Apanya yang harus dipertahankan? Hihihihi..

 

Semoga cerita ini bisa menjadi bahan pembelajaran buat temen gue yang baru saja menikah di awal Februari ini dan juga yang akan menikah di awal Maret ini. 

1 comment: