Satpam perempuan yang stand by di pintu antar gerbong mempersilahkan saya duduk di salah satu courtesy seat. Tentu saja setelah meminta salah seorang ibu-ibu untuk berdiri. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih.
Duduk tepat di sebelah saya, seorang ibu-ibu dengan tubuh sedikit berisi. Pakaiannya rapi. Rok putih dengan motif bunga, baju kemeja polos berwarna ungu dan kerudung putih cantik membalut tubuhnya. So simple. wajahnya ramah. Murah senyum.
Tidak lama setelah saya duduk, si ibu pun membuka percakapan. Tanpa perkenalan nama tentunya.
"Usia kandungannya sudah berapa bulan, bu?" tanya si ibu.
"Bulan ini masuk bulan Sembilan, bu."
"Kok belum cuti?" tanyanya lagi.
"Prediksi dokter lahir awal bulan depan. Insya allah akhir bulan ini saya cuti."
"Perempuan atau laki-laki?"
"Prediksi dokter laki-laki."
sampai di sini percakapan masih biasa saja. Saya pun menjawab pertanyaan ibu tersebut dengan senyum bahagia.
Kemudian si ibu pun mulai bercerita tentang dirinya yang sempet senang sekali mengetahui dirinya hamil. Baru beberapa minggu lalu keguguran di usia kandungan 11 minggu. kecelakaan kecil. Terpeleset di tangga. Langsung bed rest tiga hari di rumah sakit dan juga diberi obat penguat kandungan oleh dokter. Namun di hari keempat, kandungan harus dikuret karena terjadi pendarahan. Sakit sekali ketika dikuret......
Deg! Saya terdiam. Ya Allah, ibu ini pasti sedih sekali melihat perut saya yang blendung ini.Tak tergambarkan bagaimana perasaan ibu ini. Matanya berkaca-kaca. Suaranya sedikit bergetar. Bercerita dengan hati-hati. Seperti ada rasa getir yang tertahan dalam setiap ucapanya. Namun ia terus bercerita dan bertanya. Ingin rasanya memberhentikan percakapan ini. Namun tak kuasa memotong pembicaraannya.
"Sudah berapa tahun menikah, bu?" tanyanya lagi.
"Saya baru menikah Februari kemarin" jawab saya.
"Setelah menikah langsung 'isi' ya, Bu?"
"Iya," jawab saya.
Dan si ibu pun kembali bercerita tentang pernikahannya yang sudah memasuki tahun kelima namun hingga saat ini belum dikarunia buah hati. Padahal dia menikah hanya beda sedikit dengan kakaknya. Saat ini kakaknya sudah punya dua orang anak.
Ya Allah. Saya kembali terdiam mendengarkan cerita ibu ini. Sungguh saya merasa sedih. Ingin rasanya waktu berputar ke beberapa menit yang lalu, tidak mengetahui apa-apa tentang ibu ini. Saya serba salah salah dalam merespon cerita ibu ini. Namun yang pasti ada rasa sedih yang terselip di hati saya. Ya Allah kuatkanlah ibu ini dalam menghadapi ujianmu. Semoga cepet diberi karunia seorang anak.
"Sabar ya, Bu. Semoga nanti cepet diberi ganti karunia seorang anak. Tetep berdoa dan usaha." ujar saya.
Hanya itu kata yang terucap dari mulut saya.
"Iya. Terima kasih doanya, bu." ujarnya.
Dan setelah itu obrolan terhenti. Ibu tersebut tidak lagi memandangi perut saya yang mblendung. Pandangannya lurus ke depan. Namun dari sudut kanan matanya, saya bisa melihat ada air mata yang tertahan. Ya Allah, maafkan saya jika karena saya kesedihan ibu itu kembali muncul.
Di sisi lain, mungkin ini cara Allah untuk mengingatkan saya untuk terus bersyukur tiada henti atas semua karunia yang telah diberikan. Terima kasih ya Allah. Pasti ada hikmah dan pelajaran dari Mu atas semua kejadian yang saya alami pagi ini.
Created by Vidy
in KRL Ekspress Sudirman, Dukuh Atas - Bogor, 4 Nov 2010
No comments:
Post a Comment