Hotel Melasti, Kuta Bali, 10 September 2008
Bali memang gak ada matinya. Kalo gue boleh memilih, gak akan lagi gue ke Bali pada waktu bulan puasa. Gak enak.
Sekali lagi gue pergi sendiri untuk tugas luar kota. Second time for this year in Bali. Kenapa Bali? He..he.. Ini karena salah satu grantee proyek yang gue tangani berada di sini. Gue berangkat dari Jakarta naik Garuda Indonesia pukul 19.55 dan sampe di hotel tengah malam. Sebelum tiba di Bali, gue sudah booking hotel. Hotel tempat gue menginap ini merupakan rekomendasi mamanya Wira, temen gue. Tadinya gue berniat untuk menginap di hotel keluarganya Wira di daerah Jimbaran. Tapi ternyata hotel tersebut penuh hingga minggu depan. Atas rekomendasi dan harga sangat spesial dari mamanya Wira, gue menginap di Hotel Melasti, jalan Kartika Plaza. Tepatnya di sebelah Hotel Kartika Paradiso. Gue gak tau bagaimana cara mamanya wira bisa dapet harga murah banget untuk tipe kamar yang gue tempati. Ketika check in, gue iseng aja tanya berapa harga normal kamar yang gue pesen. Terkejut. Harga kamar yang gue tempati di atas lima ratus ribu rupiah. Secara gue bayar cuma 300.000 aja satu malam. Terima kasih ya tante….
Sarapan pagi diganti sahur. Sedihnya sahur pagi ini. Gue sahur bertiga dengan dua orang bapak – bapak yang juga tamu hotel. Tidak ada azan. Tidak ada suara ngaji dari mesjid. Sepi. Dan kami pun mengira – ngira, jam berapa waktu shubuh. LIllahi ta’ala. Yang penting niat. Begitu celetuk salah satu bapak – bapak tersebut. Gue pun tersenyum kecut. Yang lebih menyedihkan gue, menu sahur yang dihidangkan sama sekali tidak menggugah selera makan gue di pagi ini. Tapi gue harus makan. Hik..hik…
Setelah sholat shubuh gue kembali tidur. Gue bangun pukul delapan waktu bali. Sms dari mas Teddy, ketemu di lobi hotel pukul sepuluh pagi. Yang artinya gue punya waktu luang dua jam pagi ini. Gue bergegas mandi, kemudian cabut ke Kuta. Dari hotel Melasti ini hanya butuh sekitar sepuluh menit jalan kaki untuk sampe ke pantai kuta.
Setelah transfer uang ke Mbak Ernie, gue duduk di pasir pantai Kuta dengan alas seadanya. Sebuah brosur bank Danamon yang gue ambil ketika transfer uang untuk Mbak Ernie. Pasir pantai Kuta tidak seputih pasir di pantai Trikora pulau Bintan. Sedikit kotor (menurut gue).
Gue pun mengamati sekeliling pantai sambil menikmati debur ombak yang berulang kali menghempas bibir pantai. Cukup banyak turis yang datang, tidak hanya mancanegara, tapi juga wisatawan lokal. Ada satu perbedaan wisatawan lokal dan mancanegara yang sedikit konyol buat gue. Wisatawan mancanegara pergi ke pantai untuk berjemur. Dengan pakaian seadanya (baju renang one piece dan two pieces), mereka mencari sinar matahari. Dimana ada sinar matahari, disanalah mereka berjemur. Sangat berbeda dengan wisatawan lokal yang mencari keteduhan. Dimana ada pohon, di bawah situlah wisatawan lokal duduk. .. he..he..
Kembali ke hotel, gue meeting sama mas Teddy sampe sore. Setelah selesai dengan mas Teddy, gue cabut lagi ke Kuta. Ceritanya seh gue pengen liat sunset di pantai Kuta yang terkenal itu. Sayang, sekali lagi gue kurang beruntung. Mendung. Matahari enggan untuk menampakkan dirinya. Tertutup awan gelap. Samar – samar warna oranye terlihat malu – malu dari balik awan kelabu. Semoga ini pertanda bahwa gue akan kembali ke Kuta ini.
Tidak ada azan. Tidak ada suara ngaji dari mesjid. Gue pun berbuka puasa di salah satu tempat makan di Kuta. Karena pengalaman gue yang enggak enak waktu sahur kemaren, gue menyempatkan diri ke Circle K untuk membeli pop mie dan beberapa cemilan lain. Ini untuk sahur.
Gue kembali ke hotel. Sholat magrib. Then I don’t know what to do. Gue coba istirahat di kamar. Namun mata ini tetap terjaga. Gue turun ke lobby dan duduk di resto hotel. Resto ini terletak di sisi kiri lobby hotel. Persis di tepi jalan, Ada live music. Pengunjungnya di dominasi bule. Tua, muda bahkan anak – anak. Laptop tetap setia menemani gue. Menikmati music sambil mengerjakan back to office Report gue. Hiks,,,
Malam kian larut. Musik terus menghentak. Di sebelah meja gue duduk tiga bule cewek. Dua orang dewasa dan satu orang anak kecil. Dari pertama kali duduk di resto, anak kecil bule tersebut menjadi perhatian gue. Cantik. Murah senyum. Pemberani.
Pertama kali dia minta mamanya untuk bilang kepada singer bahwa dia ingin menyanyi di panggung. Dan menyanyilah anak kecil tersebut di panggung. Gue salut dan gemes. Selesai menyanyi, dia ingin menari. Diajaklah sang mama untuk ikut menari. Mereka bolak balik antara meja dan lantai dansa. Sang mamih, sudah tidak terlalu tertarik untuk menari. Dia lebih tertarik untuk mengobrol dengan teman sebayanya di meja, di sebelah meja gue. Dan anak kecil itu pun menari seorang diri di lantai dansa.
Ketika anak kecil tersebut dipanggil oleh sang mami untuk kembali ke mejanya, gue colek anak kecil itu dari belakang. Gue tersenyum dan ajak kenalan. Namanya Tansya. Gue gak tau bener atau tidak ejaan itu. Tapi nama itu yang terdengar di telinga gue. Tansya berasal dari Rusia. Umurnya 4 tahun. Kalo kata sang mama, bulan Januari tahun depan, umur Tansya genap lima tahun. Setelah itu gue minta ijin sama sang mami untuk mengabadikan foto Tansya di kamera gue. Gue duduk di kafe hingga pukul setengah dua belas waktu Indonesia tengah. Setelah itu gue kembali ke kamar.
Hari ini (11/09/08), pukul setengah empat waktu Indonesia tengah gue terjaga. Air di botol aqua yang tersedia di kamar hotel, gue panasin dengan water heater yang tersedia di kamar hotel. Water heater ini biasanya digunakan jika tamu ingin minum kopi atau teh di kamar. Tapi buat gue pagi ini, water heater ini untuk memanaskan air guna pop mie, menu sahur gue pagi ini. Menyedihkan banget, sahur hanya dengan pop mie. Setelah selesai makan pop mie, gue turun ke resto hotel dan minum segelas orange juice fresh. Setelah itu gue kembali ke kamar. Siap – siap untuk kembali ke Jakarta pagi ini.
Pesawat yang gue tumpangi lepas landas menuju Jakarta pukul tujuh pagi. Gue duduk di deket jendela. Di sebelah gue duduk dua orang bule Jepang. Mereka makan pagi dengan lahapnya, sedangkan gue puasa hiks…
Namun dalam perjalanan pulang ke Jakarta kali ini, gue sangat senang sekali. Gue bisa mengabadikan momen pesawat Garuda Indonesia yang gue tumpangi terbang di dekat gunung bromo. Langsung tangan gue reflek mengambil kamera digital yang memang sengaja gue persiapkan ketika pesawat lepas landas. Beberapa foto gunung Bromo dan gunung – gunung yang disekitarnya gue dokumentasikan. Subhanallah, gue takjub melihatnya. Indah. Hope someday I’ll be in Bromo.
No comments:
Post a Comment