Sunday, January 4, 2009

Never Ending Birthday – Thanks to Setiabudhi V, GG 2, No. 1, 5th floor

Tulisan ini gue tujukan buat temen – temen kosan gue di Jakarta. Buat Nina, Siska, Inggrit, Lia, Via, dan Neneng. Makasih banget ya ibu-ibu ceriwis. Terima kasih untuk kue, terima kasih untuk kado, dan terimakasih banget untuk sebuah persahabatan yang begitu menyenangkan. Yang membuat gue gak lonely kos di Jakarta. Mengingat semua kegilaan yang pernah kita lakuin. Did you all remember about Dufan? It’s only one of it. Wakakaka kalo inget itu gue jadi suka senyum-senyum sendiri. Kok bisa-bisanya saat itu gue terbujuk rayuan loe semua wakakakakak.

Terima kasih  buat kejutan di pagi hari ini (31/12/08). Gue bener-bener gak nyangka elo semua bakal kasih kejutan kayak gini. Ulang tahun gue kok gak ada habisnya ya. Secara udah sejak sebulan yang lalu gue ulang tahun. Tetep aja ada lantunan happy birthday dan kado ulang tahun buat gue he..he..he..Gue jadi males pindah kosan hiks..hiks..hiks…

Hari ini (31/12/08) adalah hari terakhir di tahun 2008. Berhubung kantor gue pindah ke Jakarta Selatan (tadinya Jakarta Pusat), gue pun siap – siap lebih pagi daripada biasanya. HIks banget. Biasanya jam tujuh pagi gue masih leyeh-leyeh di kosan. Tapi hari ini pukul tujuh pagi gue sudah rapi, siap buat ngantor. Gue ngantor cuma karena ada satu pembayaran yang harus segera diproses. Hiks..hiks..  Sebenernya hari ini gue males banget ngantor. Rasanya pengen cepet-cepet libur aja deh.

Udah rapi mau berangkat kantor, teman kosan gue rame-rame ngetok pintu. Betapa kagetnya gue ketika buka pintu kamar. Lagu happy birthday mengalun, di tangan Nina sepotong kue dengan lilin menyala di atasnya, dan Via yang menyerahkan sebuah kado ke tangan gue. Sederhana. Itu kesan gue pertama kali melihat kado dan kue. Namun itu tidaklah penting buat gue. Dengan semua yang kalian lakukan, itu udah sangat berarti buat gue. Will never forget it. Never.

Betapa kagetnya gue ketika melihat kado. Sebuah frame foto panjang dengan tiga bagian foto di dalamnya. Satu foto bagian, isinya potongan-potongan foto gue dengan bertuliskan happy birthday vidi di bawahnya, di bagian tengah adalah potongan – potongan foto dengan mimik muka jelek kita semua, dan di bagian satu laginya adalah potongan-potongan  mimik muka cantik kita semua. Duh kaliain ini ada-ada aja. Kepikiran aja bikin kayak gini….

Dengan yang semua kalian lakukan gue jadi inget Yudhit dan Gun yang juga pernah melakukan hal yang sama ke gue di penghujung tahun 2005, tepat di hari ulang tahun gue pagi hari. Kejutan dan kejutan. Well, life is a great thing.

Last: thank you very much for all of you. Really, will never forget it.   

Saturday, January 3, 2009

Trip to Bandung - 1st Part, hanging around

Well, begitu banyak yang ingin dituangkan dalam tulisan hingga bingung harus mulai dari mana. Semua serba mendadak, serba tanpa rencana. Sejak awal keberangkatan, semua rencana yang sudah disusun kurang berjalan lancar. Namun berakhir dengan baik.

Dimulai dari hari ini (26/12/08) keberangkatan ke Bandung dengan City Trans. Karena datang telat ke pool, jadwal keberangkatan yang sedianya berangkat pukul tiga, mundur jadi pukul empat. Untungnya seat di jam empat available. Kalo enggak, bisa batal perjalanan ke Bandung. Di hari yang  sama, setibanya di Bandung, rencana awal adalah mau nonton transporter, tapi akhirnya malah nonton film Keanu Reave yang berjudul The Day the Earth Stood Still.

Hari kedua di Bandung (27/12/08), Pagi – pagi udah nongkrong sama Azwar di Bubur Ayam Talaga Mang Oyo yang terletak di Gelap Nyawang. Ceritanya sarapan pagi, walaupun sedikit telat sekitar pukul Sembilan-an.  Selesai sarapan, langsung ke stasiun beli tiket kereta buat Azwar pulang ke Yogyakarta. And you know what, jalan – jalan pagi hari, naik angkot turun angkot, gue belom mandi he..he..he..(secara rencana awal kan cuma untuk sarapan doang). Jadi malu aku.

Pulang dari stasiun kereta, kembali menuju kosan adek gue yang terletak di daerah simpang Dago. Istirahat bentar,  gue pun mandi. Siap – siap untuk angkat kaki lagi dari  kosan. Akhirnya sekitar pukul dua belas siang, Heidy sampe juga di kosan. Dia naek travel pagi dari Jakarta. Dan kita pun-gue, Heidy dan Azwar, berangkat menuju BEC di jalan Purnawarman Bandung. Banyak macem juga yang dibeli di sana.

Selesai dari BEC, perjalanan dilanjutkan ke BIP. Tujuan utama nonton Transporter yang kemaren gak ke sampean. Heidy sebenernya pengen nonton Madagascar, tapi kalah suara he..he…he..Karena film masih lama, akhirnya kita makan dulu di foodcourt.

Selesai nonton sekitar jam tujuhan. Orang-orang pada baru mau keluar buat malam mingguan, gue bertiga malah pulang, gue dan Heidy ke kosan adek gue di daerah Simpang Dago, Azwar ke kosan temennya di daerah Dago Barat.

Tapi, perjalanan belum berakhir. This is not the end. Tujuan utama ke Bandung adalah jalan – jalan, bukan buat ngedekem di kosan he..he..he..Sekitar pukul Sembilan, kembali kita bertiga keluar. Setelah melewati sedikit kebimbangan, akhirnya diputuskan untuk ke sebuah tempat minum kopi di daerah Teuku Umar, yaitu Ngopi Doeloe. Penuh. Hiks.  Empat kali gue berniat untuk nongkrong di café ini, tapi selalu gagal karena penuh. Akhirnya diputuskan untuk keluar dari Café itu.

Kembali ke Jalan utama, Ir. H. Djuanda. Sedikit berdebat hendak mau ke mana. Beberapa nama café di daerah Dago Pakar disebut, Sierra, The Valley, Callista, tapi akhirnya diputuskan untuk ke The View yang terletak di kawasan Dago Resort di daerah Dago Pakar. Alasan utama ke sana adalah karena tidak seorang pun pernah nongkrong di sana.  Please deh, hari gini he..he..

Bandung ketika weekend memang sangat menyebalkan, udah macet di mana – mana. Mau cari taksi aja susahnya minta ampun. Gue bertiga nunggu taksi di depan Dago Panyawangan hampir satu jam. Damn. Akhirnya taksi pun didapatkan. Langsung tancap ke Dago Pakar. Laper.

Akhirnya tiba juga di The View. Kita semua turun dari taksi, bayar, taksi pergi kemudian kita menuju ke dalam The View. Sial, Café ini udah direservasi untuk kawinan. Rese banget, kagak ada pengumumannya gitu. Enggak informatif banget deh neh café. Gue bertiga sadar ini udah dibooking buat acara kawinan ketika melihat begitu banyak orang pake baju kebaya dengan dandanan make up lengkap.   I hope this is the first and the last time I come here. Ogah lagi deh gue ke kafe ini. Kita bertiga pun terdampar di depan The View. Akhirnya nelpon taksi lagi untuk jemput. Dan kembali menunggu taksi. Lama banget. kawasan kafe ini terpencil banget di dalam komplek perumahan.  Laper gue pun hilang karena nunggu taksi. Sebel banget.  Mana dingin pula. Rese banget. Tapi tetep gue gak mati gaya, mumpung Heidy bawa kamera XLR-nya, gue pun foto – dengan latar cekungan Bandung ha…ha..ha..

Setelah agak lama, akhirnya taksi yang di nanti dateng juga. Kita pun menyerah untuk ke Sierra, café yang biasa dijadiin tempat nongkrong. Menurut gue disinilah the best view cekungan bandung bisa terlihat.  Sekali lagi kesialan menghampiri, Sierra udah last order, so taksi pun langsung puter arah ke luar dari Sierra. Bingung mau kemana lagi. Untuk keluar dari kawasan Dago Pakar ke jalan utama cukup jauh. Kita bertiga pun kembali berdebat hendak ke mana. Kok mau makan aja kayaknya susah banget ya. HIks banget deh gue.

Akhirnya diputuskan untuk ke Restoran Atmosphere, yang terletak di daerah Lengkong. Sebelum masuk ke resto itu, Azwar duluan yang turun untuk tanya tutup jam berapa.  Azwar kembali ke taksi bilang resto masih buka sampe jam empat. Akhirnya turun dari taksi. It’s time to eat my dinner. Hiks banget. Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Ampun deh gue. Well, it wasn’t a dinner I think. Heidy sama Azwar makan lahap banget. Berhubung laper gue udah hilang, gue cuma pesen goulash soup dan hot chocolate doang.

Dan akhirnya pukul dua, kita pulang menuju kosan masing – masing, gue ke Cisitu Baru di Simpang Dago, Azwar ke Dago Barat. Dan kali ini, enggak susah lagi cari taksi.

Lesson learnt:  besok – besok ke Bandung bawa mobil aja kali yeeeeeeee. Modal dikit. Supaya gak kayak orang susah banget  ha….ha..ha..

 

TENTANG MALAM ITU

Malam itu

Telah kuceritakan kembali cerita itu

Sebuah pengalaman pahit hidupku

Sebuah luka yang menusuk hatiku

Sebuah pengkhianatan terbesar dalam hidupku

 

Berulang kali telah ku dengar

Pernyataan persetujuan

Pernyataan kebersamaan

Pernyataan keseriusan

Pernyataan kebahagiaan

 

Tapi apa yang akhirnya kudapatkan

Hanya…..

Penolakan

Perpisahan

Pengkhianatan

Dan kesedihan

 

Adakah engkau mengerti lukaku?

Adakah engkau memahami perasaan sedihku?

Adakah engkau merasakan sakitku?

Ku hanya ingin kau tau

Tak ingin lagi ku rasakan semua itu

Luka, sedih dan sakit itu

 

Apakah engkau akan menjadi seorang raja di hatiku?

Yang bisa membuatku bahagia berada di sampingmu

Yang bisa membuatku nyaman berada di sisimu

Yang bisa memahami perasaanku

Ataukah engkau akan menjadi seorang bajingan dalam hidupku?

Yang hanya akan menyisakan kesedihan dalam hidupku

Yang hanya akan menyisakan luka di hatiku

Yang hanya akan menjadi mimpi burukku

 

Tidak lagi ku butuhkan pernyataan

Ku inginkan sebuah kenyataan

Tidak lagi ku butuhkan obrolan

Ku inginkan sebuah bukti tindakan

Salahkah jika aku meminta semua ini?

 

Created by: VIDY

Monday morning, Bandung, 29 December 2008

Tuesday, December 2, 2008

MERAPI DAN TAMAN SARI YOGYAKARTA

Hari ini, Sabtu, 29 Nov 2008, akhirnya gue bisa bebas dari pekerjaan. Pelatihan sudah selesai di hari jumat malam. Tiket kepulangan ke Jakarta pun gue atur di penerbangan terakhir.

Pagi ini, langit begitu cerah. Dari kamar gue yang terletak di bagian samping hotel Santika Jogja, gunung merapi terlihat sangat jelas menjulang tinggi. Puncak merapi pun terlihat sangat indah. Ide pun muncul dari otak gue untuk memotret gunung merapi dari atap (roof) hotel Santika. Segera setelah niat terbesit, gue telpon ke resepsionis hotel, apakah gue bisa ke atap. Resepsionis pun menjawab boleh dengan catatan harus dikawal oleh security hotel.

Gue pun turun ke lobi hotel. Satpam dengan nama yang tertera pada baju dinas adalah Bapak Bambang menghampiri gue. Di temani oleh bapak Bambang, gue pun menaiki anak tangga di lantai tiga menuju atap. Tapi ternyata atap hotel santika tidak seperti tampak luar dan tidak seperti yang gue bayangkan.

Demi bisa memotret merapi, Pak Bambang mencarikan tangga. Gue pun naik ke anak tangga paling atas dan kemudian sibuk memotret sana sini. Setelah puas memotret, gue dan pak Bambang pun turun kembali ke lobi hotel. Bapak Bambang kembali ke posko tempatnya berjaga, sedangkan gue menuju jembatan yang ada di samping hotel Santika. Dari jembatan ini, gunung Merapi juga terlihat sangat jelas. Namun sayang, ketika gue tiba di jembatan, awan pun sudah menutupi puncak gunung merapi. Gagal deh memotret lagi gunung merapi.

Gue kembali ke dalam hotel. Naik lift menuju lantai 3. Keluar dari lift, gue iseng buka jendela lantai tiga hotel Santika yang menuju ke balkon luar. Dan kembali gue sibuk memotret sana – sini. Objek gue kali ini adalah burung gereja yang bersarang di dalam atap hotel Santika.

Burung gereja terbang ke sana kemari. Terkadang hinggap dipucuk pohon palm yang tingginya hanya sampai lantai dua hotel Santika. Jadi dari balkon lantai tiga ini gue bisa melihat dengan jelas aktivitas burung gereja di pucuk pohon palm. Dan gue pun dengan sigap memotret burung gereja yang terbang sangat lincah. Terkadang hinggap sana, hinggap sini.

Setelah puas memotret burung gereja , gue kembali ke kamar. Ternyata mbak Elvi sudah rapi. Gue pun segera mandi.  Tadi keluar kamar bentar itu gue belom mandi ha..ha..ha…

Setelah rapi, gue dan mbak Elvi menuju rumah salah seorang teman untuk mengantarkan printer yang gue pinjam. Sedari sana, gue dan mbak Elvi menuju Taman Sari Yogya, pemandian sultan – sultan yogya zaman dahulu kala. Kata pemandu wisata yang nganterin gue keliling komplek Taman Sari, komplek pemandian ini sudah tidak pernah digunakan lagi oleh sultan saat ini. Lokasi ini murni menjadi objek wisata.

Melihat ke salah satu papan nama yang dipasang di gerbang depan, ternyata komplek pemandian sultan ini pernah dipugar pada tahun 2004 dengan dukungan dari Caluosie Gulbenkian Foundation Portugal, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, The World Monument fund, dan The City of Savannah, USA.

Komplek Taman Sari ini cukup bersih dan terawat. Air kolam pemandian pun bersih dan bening. Bangunan tua ini masih tampak kokoh. Di bagian belakang komplek ini terdapat sebuh rumah kecil yang dijadikan galeri lukisan. Ketika gue menyambangi galeri ini, seorang ibu sedang duduk di depan galeri sambil membuat sebuah lukisan. Melongok ke dalam galeri, lukisannya bagus – bagus. Namun harganya juga rumayan. Mahal euy. Gue jadi gak beli. Lagian juga repot bawa pulangnya. Beli gak pake bingkai juga bisa, tapi kan males ajah kudu nyari bingkai lagi Jakarta. Intiya seh kagak niat beli ha….ha…

Perjalanan pun dilanjutkan menyusuri rumah warga. Katanya dulu kawasan ini adalah taman bunga. Setelah melewati perumahan warga, sampailah gue di sebuah benteng yang hampir dari setengah bangunannya sudah runtuh. Kata sang pemandu wisata, dari atas benteng ini bisa melihat kota Yogya secara keseluruhan. Jika langit sedang cerah, maka gunung merapi akan sangat jelas terlihat dari atas benteng ini. Benteng ini cukup tinggi. Mbak Elvi gak mau ikut ke atas. Akhirnya gue cuma berdua sama pemandu wisata menyusuri benteng ini sampai ke bagian atas. Mbak Elvi nunggu di bawah deket pintu keluar komplek Taman Sari.

Benar saja, tiba di bagian atas benteng, kota Yogya bisa terlihat denga jelas. Namun sayang ketika gue sampe di atas benteng, cuaca berawan sehingga puncak gunung Merapi tertutup. Setelah foto sana foto sini, termasuk dengan salah satu pengunjung bule yang kebetulan juga mengunjungi wisata komplek Taman Sari, gue pun kembali turun ke bawah.

Keluar dari komplek Taman Sari, gue dan mbak Elvi pun menuju ke Malioboro naik becak. Tujuan uama apalagi kalo bukan Mirota batik, di depan pasar Bringharjo ha….ha…shopping time…………………….

Setelah selesai berbelanja sedikit barang di Mirota Batik, gue dan mbak Elvi kembali ke hotel. Mbak Elvi siap – siap untuk pulang karena jadwal kepulangannya adalah pukul 16.05 sudah lepas landas. Sedangkan jadwal kepulangan gue ditiket masih agak lama yaitu dipukul 19.55. Mbak Elvi pun pulang duluan meninggalkan gue. Hiks..

Pukul tiga kurang sedikit gue turun ke bawah untuk ketemu sama mas Bambang. Rada bête karena gue harus nunggu dia untuk ambil kwitansi yang gue perlukan. I hate waiting. Kalo bukan karena gue butuh kwitansi itu, ogah deh yang namanya nunggu. Hiks.

Setelah membayar semua pembayaran yang harus diselesaikan secara tunai, gue pun ngomel ke mas Bambang karena harus nunggu dia gue jadi gak bisa go show pesawat yang pukul 16.05.  Mas Bambang pun berkomentar kenapa gak bilang dari tadi mau pulang cepet. Dia pun minta tiket gue, dan kemudian telpon seseorang. Gue gak tau siapa yang dihubungi oleh mas Bambang.

Selesai telpon, mas Bambang bilang cepetan ke bandara. Pesawat pukul 16.05 masih ada. Gue kagak percaya secara udah pukul 15.30. Gak mungkin banget. Ditambah gue bawa bagasi dua. Tapi akhirnya gue nurut juga untuk coba go show pesawat pukul 16.05.

Gue berangkat ke bandara pukul 15.35 dengan diantar mobil hotel. Dan pukul 16.00 gue tiba di bandara. Gue langsung menghubungi seseorang sesuai dengan kata mas Bambang tadi di hotel. And you know what, pukul 16.05 gue pun mengantongi boarding pass atas nama gue. Amazing. Setelah itu gue kembali ke counter check in untuk tarok bagasi yang berjumlah dua buah. Urusan barang selesai gue pun lari ke pintu waiting room. Bayar airport tax, gue lari keluar gate 1 menuju pesawat yang parkir agak pinggir dikit. Petugas yang berjaga di tangga pesawat senyum – senyum ngeliat gue lari menuju pesawat dengan agak susah payah. Bagaimana gue bisa lari kenceng, secara dipunggung bawa laptop. Selain itu juga gue bawa tas kecil yang dicangklongkan ke badan. Dan ditangan kiri pun gue menenteng infocus kantor yang rumayan berat. Hiks banget. Akhirnya dengan bersusah payah gue sampe juga dipesawat.  Guelah orang terakhir yang naik pesawat. He..he..yihaaaaaaaaaaa orang yang terakhir check in, dapet duduk di deket jendela. Senangnya hatiku. Satu yang terbayang oleh gue, gue bisa foto dari atas langit secara kamera kantor yang rada kerenan dikit ada di tas gue. Ketika mau duduk, pramugara pun berkomentar kok lama amat mbak. Jadi malu aku he..he..

Akhirnya pesawat pun lepas landas dipukul 16.20.  Gue pulang tanpa mengabari satu orang pun keluarga gue. Biasanya sebelum take off atau pun ketika boarding, gue selalu lapor sama bokap, and nyokap gue. Tapi kali ini tidak. Ortu gue taunya gue pulang pukul 19.55 dari Yogya. Tante gue pun yang kebetulan ada di Yogya juga enggak gue kabari. Dia taunya gue pulang pukul 19.55 he..he..

Sebelum duduk, gue mencari – cari sosok mbak Elvi, temen kantor yang tadi ninggalin gue di hotel. Gue yakin dia pasti kaget akhirnya gue bisa satu pesawat sama dia ha…ha..Gue pun duduk manis di nomor bangku 14F hingga selesai take off.

Cuaca sangat berawan. Pesawat pun mengudara di atas awan. Sesampainya di atas, gue takjub melihat puncak merapi yang tampak begitu jelas menjulang tinggi. Gue dengan sigap mengeluarkan kamera he..he..Seperti gue katakan ketika tadi di benteng komplek Taman Sari, karena cuaca sangat berawan gue jadi gak bisa liat puncak merapi. Tapi dari peswat sepertiga dari gunung merapi terlihat sangat jelas. Subhanallah.

Setelah selesai memotret gunung merapi dan juga menghabiskan roti yang disuguhkan oleh pramugari, gue ke toilet. Ternyata mbak Elvi ada di nomor 21A. Mbak Elvi tidur dengan nyenyak. Keluar dari toilet, mbak Elvi masih aja tidur. Gue minta tolong bapak – bapak yang duduk disamping mak Elvi untuk colek mbak Elvi. Mbak Elvi pun terjaga. Dia kaget liat gue. Gue pun tersenyum dan kembali ke kursi gue. Gue yakin dia pasti kaget. Bangun tidur pula ha…………..ha….ha….

Gue turun pesawat bareng Mbak Elvi. Dia Tanya kenapa gue bisa satu pesawat sama dia. Dan gue pun menceritakan semuanya. It’s really amazing thing.

 Inilah untuk kedua kalinya dalam hidup gue menjadi orang yang terakhir naek pesawat. Dulu di bulan Maret 2007 gue juga pernah mengalami hal seperti ini. Saat itu waktu gue mau pulang ke Bukittinggi karena nenek gue tercinta meninggal. Sedih.

Di bandara Soekaro Hatta sambil jalan menuju tempat pengambilan bagasi, gue telpon mas Bambang untuk bilang makasih karena gue sudah sampe di Jakarta. He..he..pertamanya dia nyangka gue masih nunggu di bandara Adi Sutjipto untuk penerbangan pukul 18. Ha..ha..Thanks.

Dari bandara Soekarno – Hatta, gue dan Mbak Elvi menuju ke kantor gue yang terletak di kawasan Thamrin. Tarok barang – barang kantor dulu. Untung ada yang lembur di hari Sabtu ini. Jadi gue masih bisa mampir bentar.

Pulang dari tarok barang di Kantor dan ke kosan gue sebentar untuk tarok koper, gue dan Mbak Elvi menuju sate padang di Setiabudi. Duh nikmat banget. Akhirnya gue makan juga. He..he..dan kembali pulang ke kosan, akhirnya gue tepar juga. Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz tidur dengan nyenyaknya.

  

Monday, December 1, 2008

Thanks to Santika Jogja

Pulang dari Jembrana dan Denpasar Bali, perjalanan pun dilanjutkan ke Yogyakarta. Sekali lagi jadi panitia training. Kali ini nama kegiatan yang gue pegang adalah Pelatihan Pra Tugas bagi Komisioner Ombudsman Lokal. Pelatihan berlangsung dari hari senin, 24 Nov 2008 hingga 28 Nov 2008 di hotel Santika Jogja.

Setiap harinya pelatihan mulai dari pukul sembilan pagi, dan selesai di pukul setengah sebelas malam. Hanya di hari terakhir, kegiatan selesai pukul setengah empat sore. Namun malam harinya kembali ada pertemuan yang berbeda dengan pelatihan, akan tetapi masih di tempat yang sama. Baru dipelatihan inilah gue gak bisa jalan – jalan keliling Yogyakarta. Dari pagi hingga malam, waktu dihabiskan hanya di hotel, termasuk di hari ulang tahun gue yang jatuh pada tanggal 25 November 2008. Hiks banget gak seh.

Di siang hari tanggal 25 November 2008, on my birthday,  front liner hotel pun mendatangi gue yang sedang duduk di kursi di depan ruang meeting, only to say Happy birthday. Gue tanya tau dari mana, dijawab tau dari database hotel he..he…Selain itu ketika gue mau ambil kunci di resepsionis, satu persatu resepsionis hotel pun mengucapkan selamat ulang tahun. Senang dan sedikit malu karena diliatin orang yang ada di lobi hotel he..he… Jadi mendadak terkenal gue di hotel ini ha..ha..ha..Selesai pelatihan, gue pun kembali ke kamar yang terletak di lantai 3. Badan terasa letih dan capek. Namun semua rasa itu sedikit berkurang ketika gue mendapati sebuah kejutan di kamar gue. Sebuah cake yang berukuran cukup besar dari Hotel Santika. Well, thank you very much. I will never forget it. He..he..he..

Di hari jumat, 28 November 2008, pelatihan pun selesai. Senangnya hatiku. Semua berakhir dengan baik. Terima kasih untuk banquet hotel Santika Jogja atas semua pelayanannya yang bagus mulai dari awal hingga berakhirnya acara. Semua berjalan dengan lancar walaupun gue sempet komplain di hari pertama karena miskomunikasi. Overall two thumbs up for the services.

Terima kasih untuk koki hotel Santika Jogja yang masak semua makanan di resto, dari sarapan pagi hingga makan malam, dari hari Senin hingga hari Jumat. Terima kasih untuk semua pilihan menunya yang OK dan sangat bervariasi. Terima kasih karena kali ini gue gak kena komplain masalah makanan dari peserta. Secara satu minggu mereka hanya berdiam diri di dalam hotel. Thanks a lot.

Terakhir, terima kasih untuk mas Bambang – Asst Director of Sales Santika Jogja yang sudah mengatur sedemikain rupa sehingga kegiatan gue berjalan dengan lancar. Terima kasih atas kerjasamanya yang baik.  Lain kali gue gak akan lupa untuk kirim daftar nama peserta sebelum acara, minimal H-1 he..he..Terima kasih atas kesabaran dan pengertiannya dalam menghadapi semua permintaan gue yang serba mendadak. Semua terselesaikan dengan baik. Semoga enggak kapok berurusan dengan gue ya. Terima kasih juga untuk traktiran buntut gorengnya di hari minggu siang. Next time 5,5 juta kita bagi dua ha…ha..ha…  

Wednesday, November 26, 2008

FRIENDS FOREVER

Forward dari seorang teman......

"Sahabat adalah Dia yg menghampiri kita ketika seluruh dunia menjauh, bukan menghampiri kalau sedang butuh. Krn Persahabatan itu spt tangan dgn mata. Saat tangan terluka mk mata menangis, saat mata menangis mk tangan meng-hapusnya. "Selamat Hari Persahabatan Sedunia" U Are Loveable ". Friends Forever."

Tuesday, November 25, 2008

Ulang tahun-qu

Hari ini ulang tahunku. Tidak terasa waktu pun berlalu, sekian tahun berlalu.

Hari ini ulang tahunku. Hari ini aku bekerja dan sedang di luar kota dalam rangka dinas luar kota. Menunaikan salah satu amanah. Jauh dari keluarga, jauh dari teman - temanku. Namun ternyata jarak tidaklah menghalangi kebahagianku.

Dihari yang bahagia ini inginku ucapkan rasa terima kasihku.

Pertama - tama, terima kasih kepada Allah SWT atas semua yang telah diberikannya, baik kesenangan ataupun kesedihan. Terima kasih untuk orang tua dan sanak keluargaku, terima kasih untuk sahabat - sahabatku, terima kasih untuk teman - temanku, baik temen sekolah, teman kuliah, temen kerja dan teman - teman lainnya yang ada di sekelilingku.

Terima kasih untuk semua orang yang mengingat ulang tahunku. Semoga kedepannya, aku bisa menjadi orang yang terus bersyukur atas segala sesuatunya, bisa menjadi orang yang terus mau belajar, dan can be a better person.

Terima kasih semua atas perhatiannya. I will remember it and never forget.